Kritisi Kerusakan Terumbu Karang, Wahyu Raih Best Paper di ASEAN Youth Initiative Conference

UNAIR NEWS – Prestasi membanggakan lagi-lagi datang dari mahasiswa Fisika Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga (UNAIR). Siapa lagi jika bukan Mohammad Wahyu Syafi’ul Mubarok, atau akrab disapa Wahyu. Tak berselang lama usai dirinya menjadi satu-satunya delegasi Jawa Timur di kegiatan Indonesian Youth Marine Debris Summit 2019 akhir Agustus lalu, kini Wahyu kembali tercatat  sebagai salah satu delegasi ASEAN Youth Initiative Conference (AYIC) di Kota Kembang, Bandung.

AYIC diselenggarakan pada tanggal 09-12 September 2019 di Universitas Padjajaran. Kegiatan itu mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara untuk bertukar inovasi dalam mengatasi permasalahan di beberapa bidang, seperti masalah kesehatan, ekonomi, pendidikan, dan lingkungan yang terjadi di kawasan ASEAN. Wahyu pun membagikan ceritanya hingga bisa lolos menjadi partisipan AYIC 2019. 

“Karena sifatnya conference, maka harus submit paper sesuai chamber. Saya sendiri fokus di penanganan isu coral reefs atau terumbu karang di ASEAN. Karena sebagian negara ASEAN termasuk kawasan Coral Triangle dengan biodiversitas paling banyak se dunia,” paparnya.

Namun, lanjutnya, kawasan Coral Triangle saat ini terus mengalami coral bleaching, atau rusaknya karang akibat polusi manusia. Salah satu isu yang bahkan diangkat menjadi poin Sustainable Development Goals (SDGs) adalah mengurangi ocean acidification. Ocean acidification merupakan fenomena menurunnya PH air laut sebagai akibat banyaknya karbon yang terserap di perairan. Kondisi tersebut diakibatkan oleh polusi dari limbah pabrik-pabrik di daratan dan berdampak sangat mematikan bagi terumbu karang.

“Tanpa terumbu karang, nggak akan ada life below water (kehidupan bawah laut, Red). So I purposed my idea about Reducing Ocean Acidification by Optimizing Blue Carbon to Combat Coral Bleaching. Saya mencoba mengusulkan blue carbon sebagai senjata utama untuk merawat coral reefs dan juga mengurangi ocean acidification,” terang Wahyu.

Blue carbon merupakan ekosistem pesisir yang terdiri atas mangrove, padang lamun, dan coastal wetland. Fokusannya di mangrove karena seluruh bagian dari mangrove dapat menyerap karbon,” tambahnya.

Menariknya, Wahyu mengaku ide awal mengenai paper-nya diperoleh ketika dirinya sedang mengikuti konferensi di Malaka Juli lalu. Sementara proses penulisannya, ia lakukan di sela-sela persiapan lomba Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) Mahasiswa Nasional di Aceh.

Ketertarikannya dalam menyoal isu-isu lingkungan, khususnya masalah laut dan terumbu karang rupanya berbuah manis. Selain lolos sebagai scholarship delegation dan bebas dari biaya akomodasi selama mengikuti AYIC, Wahyu juga meraih penghargaan Best Paper atas gagasan yang ditulisnya.

Wahyu mengungkapkan, menjadi pembicara di AYIC memberi dirinya kesempatan untuk bebas berbicara tentang laut, terumbu karang, dan perubahan iklim. Wahyu melihat bahwa kini anak muda tidak lagi harus berfokus dan terkotak-kotak pada jurusan masing-masing. Menurutnya, jurusan program studi di perguruan tinggi dapat menjadi jembatan penghubung untuk terus berkolaborasi dan belajar banyak hal yang sesuai dengan tren global.

“Saya kira masalah kemanusian, masalah lingkungan adalah tanggung jawab semua orang, bukan disiplin ilmu tertentu. Bagaimana masing-masing individu, setidaknya tahu akan apa yang sedang kita hadapi dan perangi untuk masa depan bumi yang lebih baik,” ungkapnya.

Keaktifan Wahyu mengikuti berbagai kegiatan di luar kampus tentu bukan tanpa konsekuensi. Absen kuliah selama dua minggu, membuatnya harus merelakan beberapa tambahan nilai untuk kelas mata kuliah yang ia tinggalkan. Meski demikian, Wahyu tak menyesal mengikuti berbagai kegiatan yang cukup menyita waktu kuliahnya. 

“Saya yakin, saya tidak meninggalkan kuliah, tapi saya kuliah dalam bentuk yang lain. Karena pendidikan sejatinya pembebasan atas ketidaktahuan, dan ketidaktahuan saya akan isu lingkungan terbebaskan karena ikut kegiatan tersebut. Jadi so far so good,” pungkas Mawapres FST UNAIR 2017 itu. (*)

Penulis: Zanna Afia Deswari

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

Sumber: UNAIR News



Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Dicari Kontributor Web Fisika

Anda ingin bergelut di dunia jurnalisme sains, sembari berkontribusi membangun web jurusan?

Ayo Tunggu Apalagi

Daftarkan diri anda, untuk kemajuan bersama
Daftar
0 0 vote
Rating Artikel
Subscribe
Notify of
guest
0 Respon
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
id_IDBahasa Indonesia