SURABAYA – Mega Yullia Setiawati, mahasiswi Program Studi S1 Fisika Universitas Airlangga (UNAIR), berhasil mengidentifikasi konfigurasi penyinaran paling optimal untuk radioterapi kanker serviks. Penelitian yang dilakukan di RSUD dr. Mohamad Soewandhie Surabaya ini membandingkan dua teknik radioterapi—3D-CRT dan IMRT—dengan variasi jumlah berkas radiasi (4 beam dan 5 beam) menggunakan pesawat LINAC Varian TrueBeam.
Kanker serviks menempati urutan keempat sebagai jenis kanker paling umum pada wanita di dunia. Berdasarkan data GLOBOCAN 2022, Indonesia mencatat lebih dari 36.900 kasus baru dan 20.700 kematian akibat kanker serviks dalam setahun. Penyakit ini menjadi penyebab kematian akibat kanker tertinggi kedua di kalangan wanita Indonesia, terutama pada kelompok usia produktif 15–44 tahun.
Radioterapi menjadi pilihan utama pengobatan kanker serviks, terutama untuk kasus stadium lanjut. Tantangan terbesarnya adalah memberikan dosis radiasi yang cukup untuk membunuh sel kanker di daerah panggul sekaligus melindungi organ vital di sekitarnya, yaitu rektum dan kandung kemih.
Penelitian Mega ini menganalisis beberapa pasien kanker serviks stadium IIB–IVA. Setiap pasien dibuatkan empat rencana penyinaran berbeda.
Evaluasi dilakukan berdasarkan tiga parameter utama: Homogeneity Index (HI) untuk mengukur keseragaman dosis dalam target, Conformity Indeks (CI) untuk menilai kesesuaian bentuk penyinaran dengan tumor, serta dosis yang diterima rektum dan kandung kemih.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap konfigurasi memiliki keunggulan masing-masing. Statistik membuktikan adanya perbedaan bermakna antar keempat konfigurasi pada seluruh parameter.
Mengapa IMRT 4 beam lebih optimal? Karena konfigurasi ini memberikan keseimbangan terbaik. Meskipun tidak menjadi yang terbaik di semua parameter, IMRT 4 beam paling unggul dalam melindungi organ risiko—yang justru menjadi prioritas utama dalam radioterapi kanker serviks mengingat letak rektum dan bladder yang sangat dekat dengan target penyinaran.
Salah satu temuan paling signifikan adalah perbedaan drastis dalam proteksi organ risiko. Teknik IMRT (baik 4 maupun 5 beam) mampu menurunkan dosis rektum hingga sekitar 65% dibandingkan teknik 3D-CRT, dan dosis bladder hingga lebih dari 50%.
Penjelasan fisik di balik keunggulan IMRT terletak pada mekanisme kerjanya. IMRT menggunakan inverse planning—perencanaan terbalik di mana dokter menentukan target dosis yang ingin dicapai, lalu komputer menghitung intensitas berkas optimal. Teknologi Multi Leaf Collimator (MLC) pada IMRT memungkinkan modulasi intensitas radiasi secara dinamis di setiap sudut penyinaran, sehingga distribusi dosis dapat “membentuk” mengikuti kontur tumor yang tidak beraturan sekaligus “menghindari” organ sehat di sekitarnya.
Sebaliknya, teknik 3D-CRT yang lebih konvensional masih menggunakan forward planning, di mana berkas radiasi ditentukan terlebih dahulu baru dihitung distribusinya. Teknik ini tidak mampu memodulasi intensitas di dalam setiap berkas, sehingga perlindungan terhadap organ risiko kurang optimal.
Salah satu temuan menarik adalah bahwa HI terbaik justru dicapai oleh IMRT 5 beam, bukan IMRT 4 beam. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan satu arah penyinaran (dari 4 menjadi 5 beam) meningkatkan keseragaman dosis di dalam target. Namun, peningkatan ini tidak serta-merta menjadikan IMRT 5 beam sebagai konfigurasi terbaik secara keseluruhan, karena perlindungan terhadap organ risiko tetap lebih baik pada IMRT 4 beam.
Sementara itu, CI terbaik justru dicapai oleh 3D-CRT 4 beam—lebih baik dari kedua konfigurasi IMRT. Ini menunjukkan bahwa teknik yang lebih sederhana sekalipun bisa menghasilkan konformitas spasial yang sangat baik terhadap target bila konfigurasi sudutnya tepat.
Namun, karena CI sudah sangat baik pada semua konfigurasi (mendekati nilai ideal 1), perbedaan kecil dalam CI dinilai kurang signifikan secara klinis dibandingkan perbedaan besar dalam proteksi organ risiko.
Temuan ini memiliki implikasi penting bagi praktik radioterapi di Indonesia. Dengan menggunakan konfigurasi IMRT 4 beam, rumah sakit dengan fasilitas LINAC Varian TrueBeam dapat memberikan terapi yang efektif sekaligus meminimalkan efek samping pada rektum dan kandung kemih—dua organ yang sering mengalami komplikasi akibat radioterapi panggul.
Mega menekankan bahwa pemilihan konfigurasi penyinaran tetap perlu disesuaikan dengan kondisi anatomi setiap pasien. “IMRT 4 beam dapat dipertimbangkan dalam perencanaan radioterapi kanker serviks karena menunjukkan keseimbangan yang baik. Namun, penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi anatomi pasien dan hasil evaluasi Dose Volume Histogram (DVH) dari dokter spesialis.
Penelitian ini memiliki keterbatasan pada jumlah sampel dan hanya menganalisis dua organ risiko. Mega menyarankan penelitian lanjutan dengan sampel lebih besar, variasi sudut gantry yang lebih beragam, serta penambahan organ risiko lain seperti tulang femur dan usus halus untuk hasil yang lebih komprehensif.
Penelitian Mega melengkapi rangkaian studi fisika medis di Prodi S1 Fisika UNAIR yang berfokus pada peningkatan kualitas dan keselamatan terapi radiasi—sebuah kontribusi nyata bagi upaya nasional menekan angka kematian akibat kanker serviks di Indonesia.