SURABAYA – Nadya Ayuwandari, mahasiswi Program Studi S1 Fisika Universitas Airlangga (UNAIR), berhasil mengembangkan perangkat lunak analisis Patient Specific Quality Assurance (PSQA) untuk meningkatkan akurasi dan efisiensi verifikasi dosis radioterapi pada kasus kanker kepala dan leher (Head and Neck Cancer/HNC). Penelitian yang dilakukan di Instalasi Onkologi Radiasi RSUD dr. Mohamad Soewandhie Surabaya ini menggunakan pesawat LINAC Varian TrueBeam serta merujuk pada standar internasional AAPM TG-218.

Kanker kepala dan leher merupakan salah satu jenis kanker dengan kompleksitas anatomi tinggi karena kedekatannya dengan organ-organ vital seperti sumsum tulang belakang, otak, dan kelenjar ludah. Teknik radioterapi modern seperti Intensity Modulated Radiation Therapy (IMRT) dan Volumetric Modulated Arc Therapy (VMAT) memang mampu menyalurkan dosis radiasi secara presisi, namun kompleksitasnya memerlukan verifikasi khusus untuk memastikan dosis yang direncanakan sesuai dengan yang diterima pasien.

Penelitian ini tidak hanya menganalisis kualitas PSQA, tetapi juga menghasilkan software analisis berbasis Python yang dirancang untuk mengotomatisasi proses pengolahan data. Software ini mampu membaca data hasil verifikasi, menghitung Gamma Passing Rate (GPR)—parameter utama penentu kelulusan kualitas penyinaran—serta menentukan Tolerance Limit (TL) dan Action Limit (AL) sesuai rekomendasi AAPM TG-218.

Dari sejumlah sampel pasien dengan tiga jenis diagnosis—kanker mulut, kanker kelenjar parotis, dan kanker nasofaring—penelitian menemukan bahwa teknik VMAT menunjukkan performa yang lebih baik dan lebih stabil dibandingkan IMRT. Pada kriteria evaluasi standar AAPM TG-218 (3%/2 mm), nilai GPR teknik VMAT mencapai 99,2–99,9%, jauh di atas batas kelulusan 95%. Sementara teknik IMRT berada pada kisaran 95,7–98,1%.

Bahkan ketika kriteria diperketat menjadi 2%/2 mm, nilai GPR VMAT masih tinggi di kisaran 96,1–99,2%, sedangkan IMRT turun menjadi 88,4–93,9%—di bawah batas kelulusan pada beberapa kasus.

Penjelasan fisik di balik keunggulan VMAT terletak pada mekanisme penyinarannya yang dinamis dan kontinu. Pada VMAT, radiasi diberikan saat gantry (lengan pemancar radiasi) berputar mengelilingi pasien, sehingga distribusi dosis berasal dari banyak sudut secara berkesinambungan. Hal ini menghasilkan distribusi dosis yang lebih homogen dan gradien dosis yang lebih landai. Akibatnya, ketika terjadi pergeseran kecil akibat ketidakpastian posisi pasien atau pergerakan komponen mesin, perbedaan dosis yang dihasilkan tidak terlalu besar.

Sebaliknya, teknik IMRT yang menggunakan beberapa sudut tetap dengan modulasi intensitas tinggi cenderung menghasilkan gradien dosis tajam, sehingga sedikit ketidaktepatan dapat menyebabkan perbedaan dosis signifikan dan menurunkan nilai GPR.

Penelitian ini memberikan rekomendasi praktis bagi rumah sakit di Indonesia, terutama yang mungkin belum memiliki fasilitas lengkap untuk metode QA yang lebih kompleks. Dengan mengutamakan metode true composite menggunakan detektor EPID (Electronic Portal Imaging Device)—perangkat yang sudah tersedia pada LINAC modern—metode verifikasi ini dinilai praktis dan tetap sesuai standar internasional.

Selain itu, software yang dikembangkan berpotensi mendukung implementasi QA radioterapi secara berkelanjutan dan terstandarisasi di fasilitas kesehatan tanah air.